Perwakilan dari Polines dan Undip pada tanggal 2 Juni 2010 mempresentasikan proposal pengembangan teknologi depurasi kerang dan pengeringan gerabah di ruang rapat Balitbang Jateng. Hadir juga dalam diskusi tersebut perwakilan dari DRD, dari Pemda Klaten dan Kendal, maupun dari Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Tengah dan instansi-instansi yang lain.
Acara dimulai dari pihak Undip (Universitas Diponegoro) yang menjelaskan teknologi depurasi kerang dengan tujuan mengurangi kadar bakteri pathogen dan logam berat, yang menurut studi telah melampau batas yang ditentukan oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan. Dengan dikembangkannya teknologi ini, diharapkan nelayan maupun produsen kerang dapat mengakses mesin depurasi yang lebih efisien dengan harga terjangkau sekitar 10-juta-an. Sehingga kerang yang kemudian dijual ke masyarakat sudah tidak lagi mengandung bakteri maupun logam berat. Pengembangan akan dilakukan di pantai utara Jawa tengah, di desa Sendangsikucing Kabupaten Kendal. Diharapkan setelah teknologi ini selesai dikembangkan, alat depurasi ini akan dapat juga diinstalasi di daerah-daerah lainnya, sehingga seluruh kerang produksi Jawa Tengah adalah kerang yang sudah sehat dan aman untuk dikonsumsi.


Setelah itu pihak Polines (Politeknik Negeri Semarang) memaparkan rencana pengembangan mesin pengering gerabah, yang merupakan variasi dari beberapa mesin pengering yang telah dikembangkan sebelumnya. Uniknya mesin ini hanya akan menggunakan daya listrik 700 Watt, jauh lebih kecil dari mesin-mesin sebelumnya yang menggunakan 1200 bahkan 2500 Watt. Kriteria ini diperoleh saat dilakukan survei langsung ke pusat pengrajin gerabah di Desa Menikan, Kabupaten Klaten, di mana rata-rata pengrajin hanya memiliki listrik berdaya 900 Watt. Selain itu keunggulan mesin ini adalah bisa juga menggunakan sumber panas alternatif dari pembakaran biomassa. Direncanakan biomassa yang dipakai adalah limbah pabrik Soun di desa sekitar yang hingga sekarang menumpuk tanpa penanganan. Dengan digunakannya mesin ini, proses pengeringan gerabah yang semula berlangsung selama 2 hari menggunakan panas matahari, dapat dipersingkat menjadi 5 jam, dan pengrajin tidak lagi tergantung pada adanya sinar matahari terutama di musim penghujan.


Di akhir setiap presentasi, semua pihak mengungkapkan kritik, saran, dan masukan untuk semakin menyempurnakan rencana yang telah dibuat. Banyaknya pihak yang memberikan masukan membuat diskusi sangat bermanfaat bahkan moderator terpaksa harus memotong diskusi yang berlangsung agar acara tetap berjalan tepat waktu.








